Tudingan eksploitasi anak sekolah dalam demo pun tak kalah absurd. Tim sukses bupati secara agresif mengemas kehadiran pelajar sebagai tindak kriminal. Namun, secara akademis, mereka gagal membedakan antara partisipasi politik dan eksploitasi material.
Anak-anak Ndao hadir bukan untuk dipekerjakan, melainkan untuk memberikan kesaksian atas ancaman terhadap masa depan mereka. Menuntut mereka tinggal diam di rumah saat dapur orang tua mereka hendak diratakan adalah bentuk domestikasi paksa. Tuduhan eksploitasi ini hanyalah red herring—taktik pengalihan isu untuk menutupi fakta bahwa kebijakan penguasa-lah yang sebenarnya mengeksploitasi masa depan anak-anak itu dengan ketidakpastian ekonomi.
Politik Bullying Melalui Meja Hijau
Langkah melaporkan mahasiswa ke polisi adalah pola klasik SLAPP (Strategic Lawsuit Against Public Participation). Ini adalah gaya “premanisme legal” yang bertujuan untuk meletihkan gerakan rakyat melalui proses hukum yang berbelit. Tujuannya bukan keadilan, melainkan intimidasi.
Namun, langkah ini bisa menjadi bumerang bagi Bupati Benediktus. Jika kepolisian Ende memproses laporan yang lemah secara fakta locus (lokasi) dan motif, maka publik akan melihat adanya kolusi kekuasaan antara eksekutif dan aparat penegak hukum.
Menanti Kedewasaan di Menara Gading
Sejarah mengajarkan bahwa kekuasaan yang alergi terhadap keramaian rakyat adalah kekuasaan yang sedang goyah. Ibu Cicih dan Bupati Benediktus seharusnya sadar bahwa keamanan sejati seorang pemimpin bukan datang dari Brikade polisi atau laporan pidana, melainkan dari penerimaan rakyat.
Jika setiap kritik dibalas dengan laporan polisi, maka Ende sedang bergerak menuju otokrasi kecil yang pengap. Singgasana Rujab seharusnya menjadi tempat merumuskan solusi, bukan menjadi pusat pelaporan warga yang sedang memperjuangkan hak untuk tidak lapar. Pada akhirnya, rakyat akan menilai: siapa yang lebih terganggu psikisnya? Pejabat yang mendengar orasi, atau rakyat yang melihat masa depannya hendak digilas buldozer?
“Hukum tidak boleh menjadi perisai bagi penguasa yang anti-kritik. Saat peluit pelaporan ditiup untuk membungkam lapar, saat itulah lonceng kematian demokrasi sedang berdentang.” – Salam Hangat dari Kota Karang Untuk Ibu Cicih Badeoda.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
