Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Keropos di Balik Mimik : Anatomi Ilmiah Pemimpin “Baper”

Keropos di Balik Mimik : Anatomi Ilmiah Pemimpin “Baper”

Oleh: Rian Laka (Alumni PMKRI Cabang Ende)

(Ende-Menitnusantara.com) Di lantai-lantai kekuasaan yang steril, sebuah virus lama lagi – lagi kembali bermutasi. Virus itu tidak sedang menyerang paru-paru, melainkan menyerang kewarasan demokrasi yakni sebuah fenomena pemimpin yang “baper” (bawa perasaan) terhadap kritik. Hal itu, dalam tradisi jurnalisme investigatif, sikap defensif yang berlebihan ini bukan sekadar urusan personal, melainkan alarm bahaya bagi tata kelola publik.

Baca Juga :  Wakil Bupati Nagekeo Membuka Kegiatan Seminar Inovasi Dan Gerakan Aksi Pangan Bergizi 2025

Secara ilmiah, reaksi berlebihan terhadap kritik dapat ditelaah melalui kacamata psikologi kognitif. Pemimpin yang mengidentikkan kritik terhadap kebijakan sebagai serangan personal sering kali terjebak dalam Amigdala Hijack.

Ketika sebuah data atau opini berseberangan masuk, otak emosional (amigdala) mengambil alih kendali dari otak rasional (prefrontal korteks). Hasilnya? Bukan jawaban berbasis data, melainkan laporan polisi atau mobilisasi massa pendukung.

Baca Juga :  Retorika "Ruang Publik" dan Ilusi Gerobak: Menguliti Standar Ganda di Pesisir Ende

Secara sosiologis, ini adalah bentuk Fragilitas Kekuasaan. Pemimpin yang merasa harus tampil sempurna tanpa cela sebenarnya sedang menyembunyikan kerentanan. Dalam sebuah riset tentang kepemimpinan narsistik, ditemukan pola bahwa individu yang haus akan pengakuan cenderung melihat kritik sebagai “pengkhianatan” ketimbang “masukan”.

Gejala-Gejala “Baperisme” Politik

Berdasarkan penelusuran terhadap pola komunikasi politik terkini, kami menemukan tiga gejala klinis pemimpin yang sedang terjangkit sindrom Baperisme.

Baca Juga :  Sosialisasi 4 Pilar, Cheroline Makalew Desak Penegakan Hukum Tegas terhadap Tambang Ilegal di Papua Barat

Personalisasi Institusi, kebijakan publik dianggap sebagai “anak kandung” yang suci. Ketika publik kritis mempertanyakan efektivitas anggaran disamakan dengan menghina pribadi sang pemimpin.

Eksesifitas Sensor, munculnya upaya sistematis—baik melalui regulasi karet maupun tekanan informal — untuk membungkam suara-suara sumbang di ruang digital.

Politik Kambing Hitam, Alih-alih mengevaluasi substansi kritik, narasi yang dibangun adalah tentang “siapa di balik kritik tersebut” atau “apa motif politiknya”.