Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Ring Ilmiah Dipesisir Ndao, “Orasi Puitis vs Rasio Autis”

Ring Ilmiah Dipesisir Ndao, “Orasi Puitis vs Rasio Autis”

Oleh: Rian Laka

(Ende-MenitNusantara.com) Dalam riuh rendah perdebatan penataan Pantai Ndao, kita sedang menyaksikan sebuah benturan peradaban yang ironis: di satu sisi ada rakyat yang bersuara dengan “Orasi Puitis”—sebuah bahasa kejujuran yang lahir dari getirnya perjuangan hidup—dan di sisi lain ada penguasa serta pemujanya yang berlindung di balik “Rasio Autis”.

Sebutan “Rasio Autis” mungkin terdengar kasar, namun ia adalah cermin paling akurat bagi sebuah nalar kebijakan yang hanya mau mendengar suaranya sendiri. Ia adalah nalar yang gagal membangun koneksi dengan realitas, yang lebih mencintai angka koordinat daripada angka kelaparan, dan lebih memuja estetika tata ruang daripada etika kemanusiaan.

Baca Juga :  SMK Kunci Ilmu Ende Siapkan Generasi Unggul Dan Inovasi

Ketika Narasi Kemanusiaan Dianggap “Hanya Puisi”. Setiap kali rakyat bicara soal piring nasi yang terancam pecah atau sekolah anak yang terancam putus akibat penggusuran, para teknokrat dingin segera melabelinya sebagai “retorika puitis” atau “sensasionalisme”.

Inilah bentuk arogansi intelektual yang akut. Mereka menganggap hanya bahasa hukum dan angka statistiklah yang valid sebagai “kebenaran”. Padahal, sebagaimana diingatkan oleh filsuf Jean-Paul Sartre, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tapi alat pembebasan. Menggunakan bahasa yang menyentuh nurani (puitis) bukanlah sebuah kelemahan logika; itu adalah cara paling otentik untuk menelanjangi ketidakadilan yang tidak bisa dijelaskan oleh pasal-pasal yang kaku.

Baca Juga :  Logika Dinding Tembok dan Dialog Formalistik : Mengapa Nalar dan Nurani Bukan Sekedar Kosmetik Kebijakan

Labirin Rasio Autis: Asyik dalam Dunia Sendiri. Rasio Autis dicirikan oleh ketidakmampuan untuk berempati. Para pembela penggusuran selalu bersembunyi di balik mantra: “Ini aturan,” “Ini mitigasi,” “Ini kebaikan bersama.” Mereka berbicara dalam frekuensi yang terputus dari frekuensi rakyat. Mereka terjebak dalam “gelembung kebenaran” administratif.

Baca Juga :  Labkesda Ende Lakukan Inspeksi Sanitasi, Pemilik Warung Lalapan Sambal Cobek Minta Maaf

Mereka mengira dengan menyebut “Regulasi Tata Ruang”, semua penderitaan pedagang Ndao otomatis terhapus secara logis. Ini adalah Cacat Nalar. Sebuah rasio yang sehat seharusnya adaptif dan dialogis, bukan malah menjadi dinding tembok yang kedap terhadap jerit tangis warga yang sudah 15 tahun merawat ekonomi daerah secara mandiri.

Kegagalan Imajinasi Kebijakan