Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Melawan Tirani Teks: “Regulasi Bukan Kitab Suci, Mitigasi Bukan Berhala”

Skizofrenia Kebijakan: Menagih Pajak Sambil Membunuh Subjeknya

Ada kontradiksi yang menggelikan antara kebijakan Tapping Box dan penertiban Ndao. Di satu sisi, pemerintah berambisi mengejar PAD melalui digitalisasi pajak, namun di sisi lain, pemerintah menghancurkan ekosistem ekonomi mikro di Ndao yang memutar uang miliaran rupiah per tahun.

Bagaimana mungkin pemerintah bicara soal target pendapatan daerah jika basis ekonomi rakyat yang sudah mandiri selama 15 tahun justru diratakan dengan tanah? Ini adalah kebijakan yang membelah diri. Menghilangkan pedagang Ndao berarti menghilangkan perputaran uang Rp2,4 Miliar per tahun dari sirkulasi pasar lokal Ende. Ini bukan langkah strategis, ini adalah bunuh diri ekonomi.

Baca Juga :  Ring Ilmiah Dipesisir Ndao, "Orasi Puitis vs Rasio Autis"

Keadilan Ruang: Sempadan untuk Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat

Tulisan senior Maxi Mari mengabaikan mandat Pasal 33 UUD 1945. Sempadan pantai adalah milik publik, dan publik yang paling berhak adalah rakyat yang menggantungkan hidupnya di sana secara produktif.

Kebaikan bersama (bonum commune) tidak bisa dicapai dengan cara mengorbankan piring nasi puluhan kepala keluarga demi estetika trotoar yang kosong dan dingin. Jika pemerintah hanya ingin pantai yang rapi untuk berswafoto namun membiarkan dapur rakyatnya padam, maka pemerintah sedang membangun monumen ketidakpedulian.

Baca Juga :  Opini MM Edisi 3 Membeku Dalam Halusnasi Teknokrasi : Siapa yang Mengalami Kekosongan Substantif?

Menuntut Nurani Kepemimpinan

Kita menantang Pemerintah Kabupaten Ende dan para pendukung opini “regulasi buta” ini: Berhentilah menyembah teks, mulailah melihat nyawa. Regulasi tata ruang harus direvisi untuk mengakomodasi zonasi ekonomi rakyat. Mitigasi harus diwujudkan dalam bentuk standar bangunan lapak yang aman, bukan penggusuran.

Jangan jadikan hukum sebagai alat untuk menindas mereka yang lemah hanya karena mereka tidak memiliki akses ke meja-meja kekuasaan. Ndao bukan sekadar koordinat di peta tata ruang; ia adalah detak jantung ekonomi rakyat Ende yang harus dijaga, bukan dipadamkan atas nama “berhala” administrasi.

Baca Juga :  Yayasan Al Nuar Damai Sejahtera Siap Bangun Dapur MBG di Pulau Ende

Maka dari itu, kita berharap kepada Pemerintah untuk tidak menjadikan regulasi tata ruang sebagai kitab suci dan mitigasi bencana sebagai berhala untuk disembah. Karena aspek (humanity) kemanusiaan dan ekonomi harus dipertimbangkan dengan bijaksana dan solutif.