Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Diantara Salib dan Aspal : Tragedi Ndao Ditengah Momentum Tri Hari Suci

Kedua, Ubah narasi dari “Penggusuran” menjadi “Pemberdayaan”. Gunakan anggaran yang ada untuk menata lapak agar lebih layak, bukan untuk meratakannya dengan tanah.

Ketiga, Dengarkan suara rakyat sebagai suara Tuhan yang sedang menguji nurani kepemimpinan Anda.

Iman yang Berbuah Keadilan

Jika kita mengaku beriman, maka perayaan Tri Hari Suci harusnya melahirkan kepekaan terhadap air mata orang lain. Jangan biarkan salib-salib yang kita hormati di gereja menjadi saksi bisu atas keangkuhan kebijakan yang menindas rakyat kecil di Ndao.

Baca Juga :  Menjelang Hari Raya Idul Adha Bank NTT Cabang Ende Serahkan Hewan Kurban, Imam Mesjid Mautapaga Sampaikan Terimakasih

Menata kota adalah tugas pemerintah, namun menjaga martabat manusia adalah tugas setiap insan yang beriman. Jangan kotori masa suci ini dengan ambisi ruang yang berlumuran air mata pedagang.

Karena pada akhirnya, kota yang indah tidak akan berarti apa-apa jika di dalamnya, rakyatnya harus kehilangan tempat berpijak atas nama “aturan” yang mati rasa.

Ndao Sebagai Etalase Toleransi, Bukan Lokasi Eksekusi

Alih-alih digusur, Pantai Ndao seharusnya dijadikan etalase keharmonisan Ende. Bayangkan jika pemerintah melakukan Penataan di Tempat (On-Site Upgrade): membangun lapak-lapak yang estetik bagi pedagang Muslim dengan sentuhan arsitektur lokal yang diresmikan di masa suci ini. Itu adalah pesan toleransi yang jauh lebih kuat daripada seribu pidato di panggung seremonial.

Baca Juga :  ​Wujudkan Institusi Bersih, Polres Ende Gelar Tes Urine Mendadak bagi Seluruh Personel

Namun, yang kita lihat justru sebaliknya: “Rasio Autis” kebijakan yang hanya melihat Ndao sebagai objek tata ruang yang harus “dibersihkan”. Ini adalah kegagalan dalam membaca anatomi sosial Ende. Memaksa penggusuran saat ini adalah bentuk Kebebalan Intelektual yang mengabaikan sensitivitas momentum keagamaan.

Baca Juga :  ​Wujudkan Institusi Bersih, Polres Ende Gelar Tes Urine Mendadak bagi Seluruh Personel

Maka dari itu, sebagai pesan moral kemanusiaan, berhentilah menggunakan jargon “Mitigasi” atau “Regulasi” sebagai tameng untuk menindas. Karena Tuhan tidak pernah tinggal dalam aturan yang kaku, melainkan dalam senyum rakyat yang merasa dilindungi oleh pemimpinnya. Selamat Merayakan Malam Kamis Putih Untuk Semua Saudara – Saudari Khatolik.