Diantara Salib dan Aspal : Tragedi Ndao Ditengah Momentum Tri Hari Suci

Oleh: Rian Laka
(Ende-MenitNusantara.com) Menjelang Tri Hari Suci—momentum terdalam bagi umat Kristiani untuk merenungkan pengorbanan, kerendahan hati, dan kasih tanpa syarat—masyarakat Ende justru dikejutkan oleh deru rencana liar penggusuran pedagang kecil di Pantai Ndao. Ada sebuah kontradiksi moral yang tajam: di saat kita diajak menundukkan kepala untuk mengenang Sang Guru yang membasuh kaki para pengikut-Nya, pemerintah justru bersiap “membersihkan” kaki-kaki ekonomi rakyat yang sedang berjuang menyambung hidup.
Teologi di Balik Piring Nasi
Tri Hari Suci bukanlah sekadar ritual liturgis yang berhenti di pintu gereja. Ia adalah panggilan untuk mempraktikkan kasih yang nyata kepada sesama. Dalam teologi pembebasan, iman yang sejati harus memiliki dampak empiris bagi mereka yang dipinggirkan.
Rencana penggusuran di Ndao, yang dipaksakan atas nama “estetika” dan “regulasi”, adalah antitesis dari semangat kasih. Bagaimana mungkin kita merayakan perjamuan kasih, sementara di depan mata kita, dapur tetangga kita dipadamkan paksa oleh tangan kekuasaan? Kebijakan yang tidak memberikan solusi kemanusiaan (hanya pengusiran) adalah kebijakan yang atheis terhadap penderitaan sessesama
Menggugat “Rasionalitas Dingin” di Hari Suci
Sangat ironis ketika narasi “rasionalitas kebijakan” dipaksakan tepat di masa hening ini. Para pengusung teknokrasi dingin, seperti yang kerap disuarakan pendukung kebijakan ini, sering bersembunyi di balik argumentasi regulasi. Namun, mereka lupa bahwa regulasi hanyalah instrumen, bukan tujuan. Jika sebuah regulasi tata ruang digunakan sebagai alat untuk “membuang” rakyat kecil agar trotoar terlihat indah bagi segelintir elit, maka regulasi itu telah kehilangan legitimasi moralnya.
Di tengah suasana Tri Hari Suci, kita diingatkan bahwa kemanusiaan adalah hukum tertinggi (Salus Populi Suprema Lex Esto). Menggusur pedagang Ndao saat ini bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan sebuah keruntuhan moral publik.
Paradoks “Kebaikan Bersama” yang Berlumuran Air Mata
Pemerintah dan para pembelanya sering menggunakan jargon “Kebaikan Bersama” (Bonum Commune). Namun, dalam etika sosial, kebaikan bersama tidak mungkin dicapai dengan menciptakan “kebaikan yang menyakitkan” bagi kelompok tertentu. Jika pemerintah benar-benar ingin menata Ndao, mengapa tidak menggunakan pendekatan inklusif? Tri Hari Suci mengajarkan tentang rekonsiliasi, bukan konfrontasi.
Mengapa pemerintah tidak mengajak pedagang berdialog untuk On-Site Upgrading (penataan di tempat) daripada mengirimkan ancaman pengosongan lahan? Penggusuran di tengah momentum kudus ini adalah bentuk kekerasan simbolik yang memperlihatkan bahwa bagi pemerintah, estetika kota jauh lebih berharga daripada martabat manusia yang sedang bergumul dengan ekonomi.
Panggilan untuk Bertobat bagi Pengambil Kebijakan
Momentum Tri Hari Suci adalah waktu yang tepat untuk melakukan Metanoia—pertobatan radikal. Kami menantang para pengambil kebijakan di Ende:
Pertama, Tangguhkan seluruh rencana penertiban yang bersifat represif. Jangan menambah beban penderitaan rakyat saat mereka sedang berusaha meniti jalan kehidupan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




