Refleksi Bulan Rosario : Ketulusan Ditengah Keterbatasan Menjadi Bonus Berkat yang Melimpah

Penulis : Marianus Laka
Bulan Oktober hadir kembali, membawa aroma lembut dupa dan desau doa manik-manik tasbih yang bergesek di jemari umat beriman. Di setiap senja yang temaram, suara Salam Maria bergema dari gua-gua Maria di sudut paroki, dari ruang-ruang keluarga yang hangat, hingga ke keheningan bilik hati yang paling dalam.
Bulan suci Rosario bukan sekadar rutinitas devosi tahunan; ia adalah sebuah undangan agung untuk masuk ke dalam sekolah kehidupan Bunda Maria—sebuah sekolah kerendahan hati, kepatuhan, dan ketulusan mutlak.
Di tengah dunia yang kian bising oleh kalkulasi untung-rugi dan pamrih, merenungkan misteri Rosario menuntun kita pada satu titik permenungan yang menusuk kalbu ketulusan hidup.
Ekaristi Hati Maria : Ketulusan di Tengah Keterbatasan
Mari kita kembali menengok peristiwa Kabar Sukacita. Ketika Malaikat Gabriel datang membawa sebuah rencana Allah yang teramat besar—dan sekaligus mendatangkan risiko sosial yang luar biasa bagi seorang gadis desa bernama Maria—bagaimana reaksi Sang Perawan?
Maria tidak mengajukan tawar-menawar. Ia tidak bertanya, “Berapa keuntungan yang kudapat jika aku mengiyakan rencana ini?” Atau, “Bagaimana masa depanku nanti?” Dengan ketulusan yang murni, Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam kepasrahan total: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).
Ketulusan Maria adalah ketulusan tanpa syarat. Ia tahu, risiko disalahpahami, dicurigai, bahkan menghadapi ancaman rajam di masanya sangatlah nyata. Namun, ia memilih untuk taat bukan demi pujian manusia, melainkan karena kasih yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Saat Ketulusan Diuji Oleh Realitas Dunia
Namun, meneladani ketulusan Maria di dunia modern bukanlah perkara mudah. Sering kali, dalam keseharian kita, ketulusan justru menjadi ladang empuk bagi orang lain untuk melangkah di atas pundak kita.
Pernahkah Anda merasakan kepahitan ketika kebaikan hati Anda dimanfaatkan? Anda mengulurkan tangan untuk menolong, namun yang datang kembali justru tikaman di punggung. Anda bekerja dengan kejujuran penuh, namun hasil keringat Anda diklaim oleh mereka yang lihai bersilat lidah. Dunia sering kali menertawakan orang yang tulus, menganggap mereka naif, mudah dibaca, dan bodoh.
Di sinilah air mata sering tumpah di atas butir-butir tasbih kita. Kita bertanya kepada Bunda Maria, “Ibu, mengapa jalannya orang tulus harus berdarah-darah? Mengapa kebaikan dibayar dengan keluguan yang disia-siakan?”
Misteri Gembira, Sedih dan Mulia : Sekolah Ketulusan Sejati
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












