Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Berbekal Pengalaman di Pemerintahan Desa, Flavianus Jaga Siap Maju Pilkades Utetoto

Reporter : Rian Nulangi Editor: Rian Nulangi

(NAGEKEO-Menitnusantara.com) Nama Flavianus Jaga, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sapaan Bondet, bukanlah sosok baru bagi masyarakat Desa Utetoto, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo.

Pria kelahiran 11 Juli 1983 ini telah cukup lama bersentuhan langsung dengan kehidupan pemerintahan dan masyarakat desa. Berbekal pengalaman sebagai Sekretaris Desa Utetoto selama kurang lebih lima tahun, dan saat ini dipercayakan sebagai Kaur Umum Desa Utetoto, Bondet memahami secara langsung bagaimana roda pemerintahan desa berjalan, mulai dari administrasi, pelayanan masyarakat hingga berbagai dinamika pembangunan di tingkat desa.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan kuat yang membuat Bondet berani menyatakan niat untuk maju sebagai calon Kepala Desa Utetoto dalam pemilihan kepala desa yang akan datang.

Baginya, mencalonkan diri bukan sekadar keinginan untuk menduduki sebuah jabatan. Ada pengalaman, tanggung jawab dan keprihatinan terhadap berbagai persoalan di desa yang menjadi dorongan untuk memberikan pengabdian yang lebih luas.

«“Saya memaknai semua tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya sebagai panggilan jiwa,” ujar Bondet melalui sambungan telepon.»

Pengalaman Pemerintahan Menjadi Modal Pengabdian

Selama kurang lebih lima tahun menjadi Sekretaris Desa, Bondet memiliki kesempatan untuk memahami secara dekat proses penyelenggaraan pemerintahan desa. Pengalaman tersebut kemudian terus dilanjutkan ketika dirinya dipercaya menjalankan tugas sebagai Kaur Umum.

Baca Juga :  Indomaret Tanggapi Penolakan UMKM Nangaroro, Manajemen Putuskan Tunda Rencana Pembangunan Gerai

Dua pengalaman dalam struktur pemerintahan desa tersebut menjadi modal penting apabila dirinya mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin Utetoto.

Menurut Bondet, seorang kepala desa tidak cukup hanya memiliki keinginan untuk membangun. Seorang pemimpin harus memahami kondisi desanya, mengetahui persoalan yang dihadapi masyarakat, mampu mengelola pemerintahan, serta memiliki keberanian untuk mencari peluang pembangunan dari luar desa.

“Saya ikut Pilkades selain ingin membangun dan memajukan desa ke arah yang lebih baik, saya juga ingin melakukan yang terbaik. Karena saya pernah berada di dalam pemerintahan desa, saya tahu apa yang masih kurang dan apa yang belum dilakukan sebelumnya,” katanya.

Aktif di Tengah Masyarakat dan Gereja

Selain pengalaman dalam pemerintahan desa, Bondet juga dikenal aktif dalam kehidupan sosial dan keagamaan.

Ia dipercayakan umat Stasi Lebikewa Koekobho sebagai Ketua Stasi. Kepercayaan tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan pengabdiannya di tengah masyarakat.

Menurutnya, berbagai kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan masyarakat maupun umat bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Pengalaman di pemerintahan dan pelayanan umat tersebut membuat Bondet semakin memahami bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang membangun manusia, memperkuat persatuan dan membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat.

Baca Juga :  Ayo Bangun NTT dari Sekolah bersama Forum TBM

Menyatukan Pandangan Menjadi Prioritas

Jika dipercaya menjadi Kepala Desa Utetoto, Bondet menempatkan persatuan dan keterlibatan masyarakat sebagai salah satu fondasi utama pemerintahannya.

Menurutnya, kepala desa harus mampu menyatukan berbagai pandangan, baik dari kalangan orang muda, orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama maupun seluruh pemangku kepentingan yang ada di desa.

“Saya melihat hal yang paling utama adalah bagaimana kita sebagai pemimpin mampu menyatukan pandangan, baik di tingkat orang muda, orang tua maupun semua lapisan pemangku kepentingan yang ada di desa. Kalau kita satu pandangan, program apa pun yang kita jalankan akan lebih mudah dilaksanakan,” jelasnya.

Menggali Potensi Desa dari Tingkat Bawah

Bondet juga ingin pembangunan Desa Utetoto tidak hanya bergantung pada program yang datang dari pemerintah pusat maupun daerah.

Ia ingin potensi yang dimiliki desa digali melalui proses musyawarah mulai dari tingkat paling bawah.

Menurutnya, masyarakat adalah pihak yang paling mengetahui potensi sekaligus persoalan yang ada di lingkungannya. Karena itu, perencanaan pembangunan harus dimulai dengan mendengar kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :  Etika Beropini dan Solusi Relokasi Praktis Berkeadilan

“Kalau masyarakat percaya, saya akan melakukan penggalian potensi desa dan itu harus dilakukan melalui musyawarah mulai dari tingkat bawah. Potensi desa harus bisa kita kelola sehingga menjadi sumber penghidupan masyarakat,” ujarnya.

Bondet menilai Desa Utetoto memiliki berbagai potensi yang masih perlu diangkat dan dikembangkan. Potensi tersebut tidak hanya berkaitan dengan sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusia, pertanian, ekonomi masyarakat, kebudayaan, pemuda dan berbagai potensi lokal lainnya.

Pemerintahan Desa di Era Digital

Memasuki era digital, Bondet melihat pemerintahan desa juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Jika diberikan kepercayaan memimpin, ia ingin mendorong digitalisasi pelayanan dan administrasi desa secara bertahap sesuai kemampuan dan kebutuhan masyarakat.

Pelayanan publik harus semakin mudah, cepat, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Data desa juga harus dikelola dengan baik agar pemerintah desa memiliki dasar yang kuat dalam mengambil kebijakan.

Digitalisasi tidak dimaksudkan untuk menghilangkan pelayanan secara langsung kepada masyarakat. Sebaliknya, teknologi harus menjadi alat untuk mempercepat pelayanan sekaligus mempermudah masyarakat mendapatkan informasi mengenai program, pelayanan dan pembangunan desa.

Visi: SDM Unggul dan Berbudaya

Dengan pengalaman yang dimiliki dan melihat tantangan Utetoto ke depan, Bondet membawa visi: