(NAGEKEO-Menitnusantara.com) Di tengah gempa susulan yang masih mengguncang Pulau Flores, ketika sebagian anak memilih berlindung dan menunggu keadaan kembali tenang, seorang anak perempuan justru memilih tetap belajar.
Namanya Teresia Fanei Message Dhae, siswi kelas I SMPS Stella Maris Marapokot, Kabupaten Nagekeo.
Sebelas hari setelah gempa mengguncang Flores, Fanei ditemui media ini saat sedang belajar matematika di bawah pohon asam di kawasan Kota Mbay. Di bawah terik matahari dan panasnya udara Kota Mbay, ia tetap membuka buku dan mengerjakan soal.
Pemandangan sederhana itu menjadi gambaran tentang bagaimana bencana tidak seharusnya memadamkan semangat anak-anak untuk mengejar pendidikan.
Namun, di balik ketekunannya belajar, tersimpan kerinduan yang begitu sederhana.
Ia ingin kembali ke sekolah. Ia ingin duduk bersama teman-temannya. Ia ingin kembali merasakan suasana belajar seperti sebelum gempa datang.

“Saya sudah kangen dengan teman-teman. Saya ingin kami kembali belajar normal seperti dulu. Tapi mau bagaimana, gempa susulan masih terus terjadi,” ujar Fanei dengan suara terbata-bata.
Bagi Fanei, sekolah bukan hanya tentang ruang kelas dan papan tulis. Sekolah adalah tempat bertemu teman, bermain, belajar, dan membangun mimpi tentang masa depan.
Kini semua itu berubah.
Aktivitas belajar masih dilakukan dari rumah. Guru mengirimkan tugas melalui telepon genggam. Fanei tetap berusaha mengerjakan setiap tugas yang diberikan, tetapi ia mengaku belajar secara daring tidak sama dengan belajar bersama guru dan teman-temannya di sekolah.
“Kalau kami belajar online saat ini, kami dikirim soal melalui HP dan kami tetap belajar. Tapi tidak seenak belajar di sekolah,” katanya.
Fanei juga membawa pesan sederhana untuk pemerintah.
Menurutnya, bantuan kepada masyarakat terdampak gempa jangan hanya berupa sembako dan air minum. Anak-anak juga membutuhkan perhatian terhadap pendidikan mereka.
Ia berharap pemerintah membantu menyediakan buku tulis, buku pelajaran, alat tulis, serta memperbaiki sekolah-sekolah yang rusak akibat gempa.
“Kami bisa belajar di tenda pengungsian. Karena banyak rumah di daerah kami rusak dan rubuh. Buku-buku kami juga ada yang tertimbun reruntuhan rumah dan tembok,” tuturnya.
Ia bahkan mendapat cerita dari teman-temannya yang kehilangan buku dan alat tulis karena tertimpa bangunan akibat gempa.

Karena itu, Fanei berharap pemerintah dapat menyediakan tenda khusus untuk kegiatan belajar sementara, sehingga anak-anak tetap bisa mendapatkan pendidikan meskipun belum memungkinkan kembali ke gedung sekolah.
Trauma yang Belum Hilang
Di balik keberaniannya membuka buku di bawah pohon asam, Fanei sebenarnya masih menyimpan trauma akibat gempa pertama yang mengguncang Flores.
Sebagai pengalaman pertama merasakan gempa besar, kejadian itu membuat dirinya dan keluarganya panik.
“Saya dan orangtua serta adik saya yang masih kecil lari keluar. Kami menangis dan takut. Kami pikir hidup kami sudah habis pagi itu,” kenangnya.
Ketakutan semakin besar ketika mereka mendengar kabar tentang kemungkinan tsunami. Dalam situasi penuh kepanikan, mereka tidak tahu harus menuju ke mana.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










