“Kami hanya pasrah dan berdoa,” katanya.
Fanei yang merupakan warga Tonggorambang, Dusun Puta, RT 16, mengaku masih trauma hingga saat ini.
“Jujur, Pak, saya masih trauma dengan gempa awal itu. Ini pengalaman pertama saya merasakan gempa,” ucapnya sambil mengusap air mata.
Ia masih mengingat bagaimana ayah dan ibunya berusaha menenangkan dirinya dan adiknya.
Ia melihat kedua orangtuanya juga berada dalam ketakutan, tetapi tetap berusaha menguatkan anak-anak mereka.
“Mereka sudah pasrah sambil peluk saya dan adik saya. Mereka bilang, kita kuat,” tuturnya.
Hari itu juga, keluarga Fanei memilih menuju daerah yang lebih tinggi dan membangun tenda darurat untuk sementara waktu.
Kini, bantuan pemerintah sudah mulai mereka rasakan. Sembako dan air minum telah diberikan kepada masyarakat terdampak.
Namun bagi Fanei, masih ada satu kebutuhan yang tidak boleh dilupakan: pendidikan anak-anak.
Pesan Kecil dari Bawah Pohon Asam
Fanei mungkin masih seorang anak sekolah. Ia belum memahami bagaimana kebijakan pemerintah bekerja, bagaimana anggaran disusun, atau bagaimana proses rehabilitasi sekolah dilakukan.
Tetapi ia tahu satu hal: ia ingin belajar. Ia ingin kembali bertemu teman-temannya. Ia ingin kembali duduk di ruang kelas. Dan yang paling penting, ia tidak ingin gempa merampas masa depannya.
Karena itu, dari bawah pohon asam tempat ia belajar matematika, Fanei menyampaikan pesan kepada pemerintah, terutama kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Saya minta sekali lagi, Bapak Prabowo bantu kami perlengkapan sekolah kami.”
Kemudian ia menyampaikan harapan yang jauh lebih sederhana.
“Kalau bisa bantu kami tenda untuk kami bisa belajar lagi, Pak Presiden.”
Pesan Fanei adalah pesan dari seorang anak yang sedang berusaha mempertahankan mimpinya di tengah bencana.
Di saat bangunan sekolah rusak, buku-buku tertimbun reruntuhan dan gempa susulan masih membuat masyarakat takut kembali ke rumah, seorang anak perempuan memilih duduk di bawah pohon dan belajar.
Ia mungkin tidak memiliki ruang kelas yang nyaman. Ia mungkin tidak memiliki buku yang lengkap. Tetapi ia masih memiliki sesuatu yang jauh lebih penting: keinginan untuk terus belajar.
Dan mungkin, dari bawah pohon asam itu, kita semua sedang diingatkan bahwa bencana boleh merobohkan bangunan, tetapi jangan sampai ia ikut merobohkan masa depan anak-anak Flores.
Sebab ketika Fanei berkata, “Saya sudah rindu untuk bermain bersama teman-teman,” sesungguhnya ia tidak hanya sedang berbicara tentang dirinya.
Ia sedang mewakili ribuan anak-anak terdampak gempa yang ingin kembali ke sekolah, kembali belajar, kembali bermain, dan kembali bermimpi tentang masa depan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










