Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Cinta yang Tertukar dengan Nafsu: Refleksi atas Makna Pacaran di Masa Kuliah

Dari sinilah pentingnya memahami bahwa berpacaran itu wajar, tetapi harus disertai kesadaran akan batas. Sebesar apa pun rasa cinta seorang laki-laki kepada perempuan, perempuan tetap harus memiliki ketegasan terhadap dirinya sendiri. Ketegasan ini bukan tanda ketidakpercayaan terhadap cinta, melainkan bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan rasa sayang kepada orang tua yang telah berjuang demi masa depannya.

Perempuan, khususnya yang sedang menimba ilmu jauh dari rumah, perlu menyadari bahwa dirinya membawa amanah, bukan sekadar nama pribadi, melainkan harapan seluruh keluarga. Membiarkan diri dikuasai oleh hubungan yang tidak sehat sama dengan menukar masa depan dengan kesenangan sesaat yang tidak akan pernah bisa dikembalikan seperti semula.

Baca Juga :  Rumah Adat Ute Resmi Diberkati, DPRD Nagekeo Dorong Pengakuan Masyarakat Adat

Jika memang seorang laki-laki benar-benar mencintai dengan tulus, ia akan mampu bersabar. Ia akan menghargai proses, menghormati prinsip, dan tidak memaksakan kehendak yang dapat merusak masa depan orang yang dicintainya. Kesabaran itulah cermin cinta yang sesungguhnya, sebab cinta yang sejati tumbuh dari hati yang ingin melihat pasangannya bertumbuh dan berhasil, bukan dari hasrat yang ingin menguasai dan menundukkan.

Baca Juga :  Logika Dinding Tembok dan Dialog Formalistik : Mengapa Nalar dan Nurani Bukan Sekedar Kosmetik Kebijakan

Penulis menerangkan pacaran dalam tulisan ini bukan untuk mencap pacaran sebagai sesuatu yang haram dijalani, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap hubungan membutuhkan kedewasaan dan tanggung jawab. Menikmati masa muda dengan menjalin kasih bukanlah dosa, tetapi menikmatinya dengan mengorbankan masa depan, kehormatan, dan kepercayaan orang tua adalah kekeliruan yang besar.

Baca Juga :  Galian C Milik PT Novita Karya Taga Ancam Keselamatan Warga, DPRD Minta Pemerintah Tinjau Kembali Izin Usaha

Maka, pesan yang patut direnungkan bersama adalah: cintailah dengan cara yang menjaga, bukan yang menjatuhkan. Hormatilah perjuangan orang tua dengan menjaga diri dan tujuan utama merantau menimba ilmu. Sebab cinta yang benar tidak pernah meminta seseorang mengorbankan masa depan dan kehormatannya, melainkan tumbuh bersama dalam kesabaran, kepercayaan, dan rasa hormat yang tulus dari hati.