“Kita lakukan ini sambil menunggu informasi resmi kapan sudah bisa kembali ke sekolah,” ujar Imran.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut lahir dari panggilan jiwa dan semangat pengabdian.
“Ini soal panggilan jiwa, pengabdian. Ini yang bisa kami bantu kepada sesama, apalagi kepada anak-anak bangsa sebagai generasi penerus,” katanya.
Sekolah Rusak, Semangat Mengajar Tak Padam
Di tengah kegiatan tersebut, persoalan lain juga masih dihadapi para guru.
Inang mengakui, sekolah tempatnya mengajar mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa.
Bagian loteng mengalami kerusakan, sementara sejumlah tembok juga mengalami retakan.
Karena itu, ia berharap pemerintah segera mengambil langkah agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan aman.
“Loteng semuanya hancur. Ada tembok yang retak. Kita berharap secepatnya ada penanganan sehingga aktivitas belajar mengajar bisa kembali berjalan. Kalau belum memungkinkan, kita bisa menggunakan tenda di luar. Itu lebih efektif di tengah gempa susulan seperti sekarang,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan tenda darurat sekolah sangat penting agar anak-anak tidak terlalu lama kehilangan aktivitas belajar.
Apalagi, mereka masih harus menghadapi rasa takut akibat gempa susulan.
Menjaga Mimpi di Tengah Pengungsian
Apa yang dilakukan Min, Kristina Nining dan Imran Lelo mungkin terlihat sederhana.
Hanya bermain. Hanya bercerita. Hanya bernyanyi bersama anak-anak selama sekitar dua jam.
Namun di tengah situasi pascagempa, tindakan sederhana itu memiliki makna besar.
Mereka sedang membantu anak-anak menemukan kembali rasa aman.
Mereka sedang mengajarkan bahwa ketakutan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Tenda pengungsian yang biasanya menjadi simbol keterbatasan justru berubah menjadi ruang belajar dan ruang bermain. Di tempat itu, anak-anak perlahan kembali tertawa, berbicara, bernyanyi dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Bagi ketiga guru tersebut, gempa hanyalah sebuah masa yang akan berlalu.
Sementara mimpi, cita-cita dan harapan anak-anak harus tetap dijaga.
Di tengah keterbatasan, tiga guru itu memilih untuk hadir.
Bukan karena keadaan sudah aman sepenuhnya, tetapi karena mereka menyadari bahwa pendidikan tidak selalu harus menunggu keadaan menjadi sempurna.
Kadang, pendidikan justru harus hadir di tengah tenda pengungsian, di tengah rasa takut, dan di tengah bencana—untuk mengingatkan anak-anak bahwa masa depan mereka masih panjang.
Dan selama masih ada guru yang mau menemani, bermain dan belajar bersama mereka, harapan itu belum padam.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










