Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Di Tengah Pengungsian, Ibu Guru Lutgardis Mete Tetap Mengajar dan Menguatkan Anak-Anak Korban Gempa

Reporter : Rian Nulangi Editor: Rian Nulangi

Karena itu, kegiatan belajar di pengungsian sekaligus menjadi bentuk pendampingan psikososial bagi anak-anak. Permainan edukatif, bernyanyi, mendongeng dan membaca bersama menjadi cara sederhana untuk membantu mereka mengurangi kecemasan serta mengisi waktu selama berada di pengungsian.

“Anak-anak harus tetap mendapatkan perhatian. Mereka tidak boleh dibiarkan larut dalam ketakutan. Kita ajak mereka bermain, belajar dan tertawa bersama agar mereka kembali ceria,” demikian semangat yang ditunjukkan Lutgardis dalam mendampingi anak-anak.

Baca Juga :  Merdeka di Atas Puing: Refleksi Kemerdekaan di Tengah Reruntuhan dan Air Mata Korban Gempa NTT

Sosok Lutgardis menjadi gambaran bahwa pengabdian seorang guru tidak berhenti hanya karena ruang kelas tidak dapat digunakan. Di tengah bencana, pengabdian itu justru menemukan bentuk lain: hadir di tengah anak-anak, mendengarkan mereka, mengajak mereka tersenyum dan memastikan pendidikan tetap berjalan.

Baca Juga :  420 Warga Tengki Seribu Minta Menteri HAM Kunjungi Lokasi Relokasi dan Pastikan Pemenuhan Hak Warga

Bagi anak-anak SDN Malaara, kehadiran ibu guru di tengah pengungsian bukan sekadar membawa pelajaran. Ia membawa semangat, perhatian dan rasa bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa sulit.

Di pelosok Desa Romarea, ketika bencana membuat banyak keluarga harus meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman, seorang ibu guru memilih tetap berdiri bersama anak-anaknya.

Baca Juga :  Buka SPMB Tahun Akdemik 2026/2027, Stikes Nusantara Kupang Gratiskan Leptop Bagi Mahasiswa Baru 

Dengan buku, permainan, cerita dan senyuman, Lutgardis Mete mengajarkan satu hal penting: di tengah bencana sekalipun, harapan dan pendidikan harus tetap hidup.