Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Di Tengah Tenda Pengungsian, Tiga Guru Towak Menjaga Mimpi Anak-Anak Pascagempa

Reporter : Rian Nulangi Editor: Rian Nulangi

(NAGEKEO-Menitnusantara.com) Ketika sebagian aktivitas sekolah masih dihentikan dan sejumlah guru memilih pulang kampung karena trauma serta situasi pascagempa yang belum sepenuhnya aman, tiga guru di Towak, Kabupaten Nagekeo, justru memilih tetap berada di tengah anak-anak.

Mereka adalah Min, guru SDN Peresambi, serta Kristina Nining dan Imran Lelo, guru SD Inpres Towak.

Ketiganya tidak mengajar di ruang kelas. Mereka mengajar di tempat yang jauh dari suasana sekolah—di sebuah tenda pengungsian di Kampung Dheru.

Di bawah tenda sederhana itu, pelajaran berlangsung dengan cara yang berbeda. Tidak ada papan tulis dan suasana kelas yang kaku. Anak-anak diajak bermain, bernyanyi, mendengarkan cerita, hingga mengikuti permainan edukatif.

Bagi ketiga guru tersebut, kegiatan itu bukan sekadar mengisi waktu selama sekolah diliburkan. Mereka ingin membantu anak-anak melewati rasa takut dan trauma setelah gempa yang mengguncang Flores.

Baca Juga :  Warga Masih Mengungsi, Puluhan Rumah di Kelurahan Dhawe Rusak Berat, Pemerintah Nagekeo Jangan Tutup Mata

Mereka percaya, anak-anak tidak boleh terlalu lama larut dalam ketakutan.

Gempa boleh membuat mereka berhenti sejenak, tetapi tidak boleh mematahkan semangat mereka untuk belajar dan mengejar cita-cita.

Berawal dari Anak-Anak yang Ketakutan

Kristina Nining atau yang akrab disapa Inang, mengatakan dirinya melihat langsung perubahan sikap anak-anak setelah gempa.

Anak-anak yang sebelumnya bersemangat pergi ke sekolah dan bermain bersama, tiba-tiba menjadi takut dan panik.

“Pasca gempa, awalnya saya melihat anak saya dan anak-anak tetangga di Kampung Dheru sangat takut. Mereka panik dan trauma. Biasanya mereka semangat belajar di sekolah dan bermain, tetapi setelah gempa mereka kelihatan sangat takut,” ujar Inang.

Baca Juga :  Dari Sosialisasi ke Aksi Nyata: Cheroline Kuatkan Empat Pilar, Warga Terima Sembako

Kebetulan, di depan rumah Min terdapat tenda yang menjadi salah satu lokasi pengungsian warga Dheru.

Dari situlah muncul sebuah inisiatif sederhana.

Inang bersama Min dan Imran kemudian mengumpulkan anak-anak di sekitar tenda untuk bermain dan bercerita.

“Awalnya kami bertiga hanya bermain dan bercerita dengan anak-anak. Hari pertama memang hanya beberapa orang yang datang. Tetapi masuk hari kedua, semakin banyak anak yang datang dan mau bergabung,” katanya.

Kegiatan tersebut berlangsung sekitar dua jam sehari. Mereka tidak membuat anak-anak duduk belajar secara penuh seperti di dalam kelas.

Anak-anak bermain sambil bercerita, bernyanyi dan mengikuti berbagai kegiatan yang membuat mereka kembali tersenyum.

Baca Juga :  DPRD Nagekeo Dukung Kehadiran Indomaret di Nangaroro, Anton Sukadame: Investasi yang Meningkatkan PAD dan Membuka Lapangan Kerja

Bahkan, sejumlah orang tua ikut hadir memberikan dukungan kepada anak-anak mereka.

Belajar Sekaligus Memulihkan Trauma

Imran Lelo menjelaskan, kegiatan yang mereka lakukan bersama anak-anak merupakan bagian dari upaya trauma healing, khususnya melalui pendekatan bermain atau play therapy.

Dengan keterbatasan yang ada, mereka menggunakan permainan sebagai media agar anak-anak dapat menyalurkan rasa takut, cemas dan kesedihan tanpa merasa sedang menjalani sebuah terapi.

Anak-anak diajak menyanyikan lagu-lagu gembira dan lagu edukasi, termasuk simulasi sederhana tentang gempa. Mereka juga mendengarkan dongeng yang memberikan motivasi sekaligus hiburan.

Bagi Imran, yang terpenting bukan seberapa lama mereka belajar, tetapi bagaimana anak-anak kembali merasa aman dan percaya diri.