“Kasihan kita sudah kehilangan rumah dan tinggal di tenda pengungsian, tetapi masih ada yang mengirim video-video lama seolah-olah ada sesuatu yang akan terjadi. Kasihan anak-anak dan orangtua kita, mereka bisa panik,” kata AWK.

AWK juga meminta aparat kepolisian, khususnya Polda NTT melalui tim siber, untuk mengambil tindakan terhadap pihak-pihak yang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu atau hoaks terkait gempa yang dapat menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Menurutnya, informasi yang tidak benar dalam situasi bencana bukan hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan warga karena membuat masyarakat panik.
“Jangan terlalu cepat percaya berita hoaks di media sosial, apalagi di tengah bencana seperti ini. Kita harus memastikan informasi yang diterima benar dan berasal dari sumber yang dapat dipercaya,” tegasnya.
Usai mengunjungi warga Marapokot yang mengungsi di Desa Ngegedhawe, AWK dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke sejumlah titik pengungsian lainnya di Kabupaten Nagekeo untuk melihat langsung kondisi masyarakat serta menyerahkan bantuan.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya AWK untuk memastikan masyarakat terdampak gempa mendapatkan perhatian dan dukungan, terutama mereka yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian akibat rumah yang rusak maupun karena masih merasa khawatir terhadap gempa susulan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










