Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Menakar Marwah Srikandi Megy Sigasare di Altar Golkar Ende Jelang Musda

Menakar Marwah Srikandi Megy Sigasare di Altar Golkar Ende Jelang Musda

Oleh: Rian Laka, Kader Muda Golkar Ende

Lanskap politik Kabupaten Ende menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar hari ini ibarat lautan yang sedang bergolak. Di atas meja lobi dan di balik pintu-pintu senyap, dinamika mengkristal menjadi empat poros kekuatan. Ada nama dr. Domi, Ambros Reda, dan Jhon Pela—figur-figur pria dengan jejaring taktisnya masing-masing. Namun, di antara kepungan arsitektur politik maskulin itu, berdiri tegak satu-satunya srikandi yang menolak menjadi pelengkap ornamen. Ia adalah Megy Sigasare.

Kehadiran Megy di bursa calon ketua bukan sekadar tentang pemenuhan kuota perempuan, melainkan sebuah pernyataan tentang otentisitas, ketabahan, dan cinta yang telah diuji oleh waktu. Ketika politik hari ini kerap diasosiasikan dengan “kutu loncat” yang gemar berganti baju demi syahwat kekuasaan, namun Megy adalah antitesis yang langka.

Mengenai Megy dan Partai Golkar Ende, itu adalah warisan cinta terhadap karya yang menjadikan Megy terlibat sebgai salah satu perempuan yang konsisten membentuk dan mengembangkan potensi dirinya dari dulu hingga kini belum berganti baju.

Baca Juga :  Melampaui Dikotomi Aturan dan Kemanusiaan - Dialog Kebijakan yang Berbasis Nalar dan Nurani

Bagi Megy, Golkar Ende bukanlah kendaraan sewaan yang dinaiki saat musim pemilu dan ditinggalkan saat badai datang. Ikatan ini bersifat genetik dan spiritual. Jauh sebelum Megy melangkah ke panggung praktis, panji beringin telah berkibar di rumahnya melalui jejak karier politik sang ayah. Golkar adalah dongeng pengantar tidur, diskusi meja makan, dan nafas keluarga.

Ketika sang ayah tiada, Megy tidak membiarkan obor itu padam. Ia melangkah masuk, memungut panji yang ditinggalkannya, dan menancapkannya jauh di dalam sanubarinya sendiri. Sejak hari pertama ia mengikatkan diri hingga detik ini, Megy mencintai Golkar seperti ia mencintai dirinya sendiri. Baginya, Golkar Ende bukan lagi sekadar organisasi tapi Golkar adalah fragmen dari hidupnya, sebuah rumah besar tempat ia bertumbuh, menangis, dan berdiri tegak.

Konsistensi Megy tidak pernah lahir di ruang yang nyaman. Ia ditempa oleh martil cobaan. Di awal langkahnya, Megy harus mengecap pahitnya dua kali kekalahan bertarung dalam kontestasi politik. Bagi politisi pragmatis, dua kali jatuh adalah alasan yang lebih dari cukup untuk “berganti warna baju” atau berkhianat mencari suaka ke partai lain. Namun Megy memilih jalan velvet—lembut dalam kesetiaan, namun bermental baja dan menolak berpaling.

Baca Juga :  Yulius Sesar Nonga Resmi Pimpin PKB Ende, Gantikan Abdul Kadir Mosa Basa

Hukum alam tidak pernah salah menakar ketabahan. Pada Pemilu Legislatif 2019, kesetiaan itu berbuah manis. Megy meledak dengan raupan suara yang fantastis, mengunci satu kursi di parlemen Ende. Lima tahun berselang, di Pemilu 2024, ujian datang lagi. Arus politik bergeser, dinamika meredupkan sebagian angka, dan suaranya mengalami penurunan.

Namun, di situlah bedanya petarung sejati dengan pemenang musiman, Megy berhasil mempertahankan prestasinya, kembali duduk di kursi legislatif untuk periode kedua. Megy membuktikan bahwa basis massanya bukan sekadar angka yang dibeli, melainkan akar yang tertanam dalam.

Srikandi Tunggal di Persimpangan Jalan

Kini, menjelang Musda, ketika empat faksi terbentuk dan lobi-lobi logistik di bawah meja mulai memekakkan telinga dalam kesunyian, Megy Sigasare kembali mengambil langkah berani. Ia menjadi satu-satunya perempuan yang merasakan panggilan jiwa untuk memimpin, menahkodahi Golkar Ende ke masa depan.

Baca Juga :  Rasionalitas yang Terluka : Menjawab Teknokrasi Dingin Kakanda Maxi Mari dalam Tragedi Ndao

Keterpanggilan ini bukan lahir dari ambisi buta, melainkan dari sebuah kelayakan yang telah sah secara historis dan moral. Di antara empat nama yang mencuat, siapakah yang paling konsisten merawat beringin Ende tanpa pernah sedetik pun menoleh ke arah lain? Jawabannya ada pada jejak kaki Megy.

Megy adalah personifikasi dari filosofi setangkai mawar yang dicangkok. Ia telah melewati fase disayat oleh kekalahan, dikerat oleh penurunan suara, namun dari setiap luka itu, ia melahirkan akar baru yang memperkuat Golkar di bumi Flores.

Ketika lobi senyap di ruang gelap sibuk menghitung angka transaksi, Golkar Ende membutuhkan figur yang memimpin dengan hati dan integritas. Menyerahkan kemudi Golkar Ende kepada Megy Sigasare bukan lagi soal memilih ketua partai, melainkan mengembalikan marwah partai kepada pemilik cinta yang paling tulus. Sebab, memimpin rumah yang kita cintai seperti diri sendiri, akan selalu menghasilkan kepemimpinan yang merawat, melindungi, dan takkan pernah mengkhianati.