Karena itu, kegiatan belajar di pengungsian sekaligus menjadi bentuk pendampingan psikososial bagi anak-anak. Permainan edukatif, bernyanyi, mendongeng dan membaca bersama menjadi cara sederhana untuk membantu mereka mengurangi kecemasan serta mengisi waktu selama berada di pengungsian.
“Anak-anak harus tetap mendapatkan perhatian. Mereka tidak boleh dibiarkan larut dalam ketakutan. Kita ajak mereka bermain, belajar dan tertawa bersama agar mereka kembali ceria,” demikian semangat yang ditunjukkan Lutgardis dalam mendampingi anak-anak.
Sosok Lutgardis menjadi gambaran bahwa pengabdian seorang guru tidak berhenti hanya karena ruang kelas tidak dapat digunakan. Di tengah bencana, pengabdian itu justru menemukan bentuk lain: hadir di tengah anak-anak, mendengarkan mereka, mengajak mereka tersenyum dan memastikan pendidikan tetap berjalan.
Bagi anak-anak SDN Malaara, kehadiran ibu guru di tengah pengungsian bukan sekadar membawa pelajaran. Ia membawa semangat, perhatian dan rasa bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa sulit.
Di pelosok Desa Romarea, ketika bencana membuat banyak keluarga harus meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman, seorang ibu guru memilih tetap berdiri bersama anak-anaknya.
Dengan buku, permainan, cerita dan senyuman, Lutgardis Mete mengajarkan satu hal penting: di tengah bencana sekalipun, harapan dan pendidikan harus tetap hidup.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










