Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Tokoh Muda Riung Tolak Penggunaan Nama “Festival Komodo Riung”, Nilai Kaburkan Identitas Daerah

Reporter : Rian Nulangi Editor: Tim

(RIUNG-Menitnusantara.com) Tokoh muda Riung, Yohanes Paulus Lendes, menyampaikan penolakan dan keberatannya terhadap penggunaan nama “Festival Komodo Riung” pada kegiatan pariwisata yang dijadwalkan berlangsung di Pantai Watulajar, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, pada 11–13 Agustus 2026.

Menurut Pace Lendes sapaan akrabnya, penggunaan nama tersebut tidak mencerminkan identitas, sejarah, maupun kekayaan ekologis yang dimiliki Riung. Ia menegaskan bahwa nama sebuah festival bukan sekadar sarana promosi, melainkan representasi jati diri suatu daerah yang akan dikenal oleh masyarakat, wisatawan, hingga dunia internasional.

Baca Juga :  Peringati Hari Lingkungan Hidup, Pemkab Ende Tanam Pohon di Sempadan Pantai Ndao

“Sebagai orang Riung, saya menyampaikan penolakan sekaligus keberatan atas penggunaan nama ‘Festival Komodo Riung’. Penamaan tersebut tidak merepresentasikan identitas Riung yang sesungguhnya,” ujar Yohanes.

Ia menjelaskan bahwa selama ini nama Komodo telah melekat sebagai identitas Kabupaten Manggarai Barat, khususnya kawasan Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo. Karena itu, penggunaan nama yang sama untuk festival di Riung dinilai berpotensi menimbulkan kebingungan sekaligus mengaburkan citra Riung sebagai destinasi wisata yang memiliki karakteristik dan kekhasan tersendiri.

Baca Juga :  Opini MM Edisi 3 Membeku Dalam Halusnasi Teknokrasi : Siapa yang Mengalami Kekosongan Substantif?

Menurutnya, Riung telah lama dikenal melalui kawasan Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau yang memiliki panorama bahari, gugusan pulau-pulau kecil, keanekaragaman hayati laut, serta potensi wisata alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Identitas Riung seharusnya diperkuat melalui festival yang mengangkat kekhasan daerah, bukan justru menggunakan nama yang selama ini telah menjadi identitas wilayah lain,” katanya.

Baca Juga :  Respon Cepat Longsor di Desa Mausambi, Megi Sigasare Langsung Kordinasi Dengan PU Provinsi NTT

Pace lendes juga menjelaskan bahwa satwa sejenis komodo yang terdapat di wilayah Riung pada dasarnya adalah komodo itu sendiri, yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Mbou atau Mbau. Namun, menurutnya, keberadaan satwa tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menjadikan kata “Komodo” sebagai identitas utama sebuah festival.