(Ende-Menitnusantara.com) Di tengah situasi sulit pascagempa yang mengguncang Pulau Flores, kepedulian terhadap sesama terus tumbuh dari berbagai penjuru. Bagi sebagian orang, membantu mungkin hanya sebuah tindakan sederhana. Namun bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan, sebuah uluran tangan bisa menjadi tanda bahwa mereka tidak sedang menghadapi semuanya sendirian.
Semangat itulah yang ditunjukkan Fanci Bhato, putra Rajawawo, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Bersama keluarga serta sejumlah anak muda dan putra Rajawawo Nua Mere yang berada di luar Ende, yakni Kosta Djata, Novan Gus, Eras Bhato, Noris Rarong dan Tonce, Fanci menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat Rajawawo Nua Mere yang terdampak gempa bumi beberapa hari terakhir.
Di bawah koordinasi Fanci Bhato, bantuan tersebut disalurkan sebagai bentuk kepedulian kepada keluarga dan masyarakat di kampung halaman yang hingga kini masih membutuhkan perhatian.

Menurut Fanci, bantuan yang diberikan tidak hanya berasal dari dirinya dan keluarga. Bantuan tersebut merupakan hasil dukungan dari jaringan pertemanan dan orang-orang yang berada di luar Pulau Flores yang tergerak setelah mengetahui kondisi masyarakat terdampak gempa.
«“Bantuan ini kami dapatkan dari jaringan kami yang ada di luar Pulau Flores. Semuanya karena pertemanan dan jaringan. Ini merupakan bentuk kepedulian mereka untuk keluarga saya di Rajawawo Nua Mere. Sampai saat ini belum ada bantuan sembako ataupun bantuan lainnya yang datang untuk membantu mereka. Padahal, mereka juga merupakan korban bencana gempa,” ujar Fanci.»
Datang Saat Dibutuhkan
Bagi Fanci, kepedulian tidak seharusnya hadir ketika keadaan sudah membaik. Justru, nilai sebuah bantuan akan terasa ketika diberikan pada saat seseorang benar-benar membutuhkannya. Ia menyampaikan sebuah ungkapan sederhana namun penuh makna:
«“Jauh lebih baik kita membawa tisu ketika keringat masih membasah, daripada kita datang membawa tisu ketika keringat sudah kering.”»
Ungkapan tersebut menggambarkan prinsip Fanci dalam melihat kepedulian sosial. Baginya, membantu bukan sekadar hadir setelah semuanya berlalu, tetapi berusaha hadir ketika masyarakat masih berada dalam situasi sulit.

Kepedulian itu pun, kata dia, bukan sesuatu yang baru dilakukan ketika terjadi bencana. Selama ini dirinya telah terlibat dalam berbagai aktivitas sosial, kepemudaan maupun kegiatan rohani di tengah masyarakat.
Bagi Fanci, ukuran sebuah kebaikan bukan terletak pada besar kecilnya bantuan, melainkan pada ketulusan dan kemauan untuk berbagi.
«“Berbagi tidak membuat kita miskin, melainkan membuat kita lebih kaya akan cinta dan kebahagiaan.”»
Ia mengatakan, ketika ada kegiatan anak muda, kegiatan rohani maupun kegiatan sosial dan dirinya diminta untuk mengambil bagian, ia berusaha hadir sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










