(Jakarta-Menitnusantara.com) Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi di Flores terus ditunjukkan berbagai pihak. Di tengah situasi sulit yang dihadapi masyarakat, Santi Leda Gama memilih memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk membantu sesama.
Penulis, pemerhati anak, pegiat budaya NTT, sekaligus pendiri Rumah Pena AleSandra itu menggelar aksi kemanusiaan melalui pelelangan sejumlah busana berbahan kain tenun tradisional NTT.
Hasil pelelangan tersebut nantinya akan didonasikan untuk membantu masyarakat Pulau Palue, Kabupaten Sikka, yang terdampak gempa.

Bagi Santi, aksi tersebut mungkin sederhana. Namun, ia percaya kepedulian sekecil apa pun dapat menjadi berarti ketika dilakukan bersama-sama.
“Saya bersama keluarga menyampaikan duka yang mendalam untuk masyarakat Flores yang menjadi korban gempa. Ada saudara-saudara kita yang kehilangan tempat tinggal dan menghadapi situasi yang sangat sulit,” ujarnya.
Santi juga mengingatkan bahwa kebutuhan korban bencana tidak berhenti pada bantuan berupa makanan, pakaian, maupun kebutuhan dasar lainnya.
Menurutnya, perhatian terhadap kondisi psikologis korban, khususnya anak-anak, juga harus menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Anak-anak yang kehilangan rumah, tinggal di pengungsian, merasakan guncangan gempa, atau melihat lingkungan di sekitarnya berubah secara tiba-tiba membutuhkan rasa aman dan pendampingan.
“Selain material, kita harus memberikan support untuk pemulihan psikologis anak-anak yang terdampak. Kasihan mereka. Secara psikologis, anak-anak juga terdampak dan kondisi mental mereka perlu mendapatkan perhatian,” katanya.
Ia berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat memberikan ruang pendampingan bagi anak-anak selama masa tanggap darurat hingga proses pemulihan.
Menurut Santi, anak-anak perlu memiliki ruang untuk bermain, bercerita, berinteraksi dan mendapatkan perhatian agar mereka tidak menghadapi masa sulit tersebut seorang diri.
Tenun NTT Menjadi Jalan Berbagi
Kecintaan Santi terhadap kain tenun tradisional NTT kemudian ia jadikan bagian dari gerakan kemanusiaan.
Busana-busana tenun yang dilelang bukan hanya memiliki nilai budaya, tetapi kini menjadi sarana untuk menggalang kepedulian bagi saudara-saudara yang sedang menghadapi bencana.
“Ini adalah bentuk kecil yang bisa saya lakukan. Kita menggunakan apa yang kita punya untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah,” ungkapnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










