Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Di Bawah Riuh Helikopter, Warga Rendu Ola Menjemput Asa dengan Swadaya

Reporter : Rian Nulangi Editor: Tim

Gotong royong tentu merupakan kekuatan masyarakat yang patut diapresiasi. Tetapi jangan sampai semangat gotong royong justru menjadi alasan bagi pemerintah untuk terlambat hadir.

Masyarakat mampu membantu dirinya sendiri bukan berarti negara boleh melepaskan tanggung jawab.

Justru ketika masyarakat bergerak secara swadaya, pemerintah seharusnya semakin terdorong untuk hadir, memperkuat, dan memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Baca Juga :  Ring Ilmiah Dipesisir Ndao, "Orasi Puitis vs Rasio Autis"

Jalan yang diperbaiki warga Rendu Ola bukan hanya persoalan jalan berlubang atau akses transportasi. Jalan itu menjadi simbol dari sebuah pertanyaan besar tentang kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

Warga sudah melakukan bagian mereka.

Mereka mengumpulkan dana. Mereka mengeluarkan tenaga. Mereka bekerja bersama. Mereka tidak menunggu semuanya datang dari pemerintah.

Baca Juga :  Ende Baru dan Ende Bersih : Sampah Tantangan Kita

Kini pertanyaannya kembali kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah: kapan negara benar-benar hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat Rendu Ola?

Jangan sampai suara helikopter yang begitu jelas terdengar di langit justru berbanding terbalik dengan suara masyarakat di bawah yang masih menunggu bantuan.

Baca Juga :  Sembunyi di Balik Pintu Rujab: Pelarian Sang Bupati Ende dari Konflik Ndao.

Sebab masyarakat tidak membutuhkan sekadar kunjungan.

Masyarakat membutuhkan kehadiran nyata, bantuan nyata, dan kebijakan yang nyata. Rendu Ola telah menunjukkan bahwa rakyat bisa bertahan dengan kekuatan sendiri. Tetapi negara tidak boleh membiarkan rakyat terus-menerus bertahan sendirian.