Indeks

Opini : Ulasan Lon Segi Tak Sepanjang Gelar Akademisnya

Sanggahan Terhadap Narasi “Kebaikan Bersama” dalam Penataan Pantai Ndao

Oleh : Rian Laka Alumni Unflor

(Ende-MenitNusantara.com) Membaca opini Lon Segi, S.Pd., M.Pd. yang mencoba menjustifikasi kebijakan penertiban Pantai Ndao dengan jubah “Kebaikan Bersama”, kita seolah sedang melihat sebuah parade intelektual yang megah di permukaan namun keropos di fondasi.

Gelar akademis yang berderet panjang seharusnya berbanding lurus dengan ketajaman analisis sosiologis dan empati kemanusiaan. Sayangnya, ulasan saudara Lon Segi dalam perkara Ndao justru nampak kerdil, terjebak dalam diksi-diksi normatif yang jauh dari realitas perut rakyat.

Kekeliruan Fundamental: Kebaikan Bersama atau Eksploitasi Moral?

Saudara Lon Segi berargumen bahwa tidak ada yang salah dengan narasi “Kebaikan Bersama”. Secara teoretis, Bonum Commune adalah cita-cita luhur. Namun, dalam praktik kebijakan di Ndao, narasi ini berubah menjadi Tirani Mayoritas.

Kebaikan bersama tidak boleh dicapai dengan cara menumbalkan hak hidup kelompok kecil. Jika “kebaikan” yang dimaksud adalah pantai yang bersih demi kepuasan mata pelancong namun harus mematikan piring nasi 100 jiwa pedagang lokal, maka itu bukan kebaikan bersama. Itu adalah Eksploitasi Moral.

Sebuah kebijakan hanya bisa disebut demi kebaikan bersama jika ia inklusif—mengakomodasi kepentingan estetika kota sekaligus menjamin keberlangsungan ekonomi rakyatnya.

Kegagalan Nalar: Penataan Bukan Berarti Pengosongan

Di sinilah letak “pendeknya” ulasan saudara Lon Segi. Ia nampaknya tidak mampu membedakan antara Penataan (Ordering) dan Penggusuran (Displacement).
Mengapa dalam nalar Lon Segi, satu-satunya jalan menuju ketertiban adalah dengan mengosongkan lahan? Ini adalah bukti kemiskinan inovasi kebijakan. Dunia modern telah lama mengenal konsep On-Site Upgrading—menata di tempat.

Pedagang Ndao bisa difasilitasi dengan rombong yang estetik, higienis, dan selaras dengan tata ruang. Menghilangkan mereka sama sekali adalah jalan pintas birokrasi yang malas, yang sayangnya justru diamini oleh seorang akademis.

Exit mobile version