Indeks

Opini : Ulasan Lon Segi Tak Sepanjang Gelar Akademisnya

Absennya Akurasi Data dalam Narasi “Kebaikan”

Gelar M.Pd. seharusnya mencerminkan kemampuan riset yang mumpuni. Namun, ulasan Lon Segi abai terhadap Analisis Dampak Sosial-Ekonomi. Apakah saudara Lon Segi tahu bahwa ada perputaran uang sekitar Rp2,4 Miliar per tahun di Ndao yang menghidupi ekonomi domestik Ende? Mematikan ekosistem ini tanpa solusi relokasi yang strategis (bukan sekadar janji) adalah tindakan ceroboh.

Kebaikan bersama tidak bisa diukur dari indahnya foto pantai di media sosial, tapi dari seberapa banyak warga Ende yang berdaya dan tidak menjadi beban bansos baru bagi daerah.

Paradoks Keadilan Spasial: Mengapa Hanya Ndao?

Narasi Lon Segi menjadi sangat naif ketika ia menelan mentah-mentah alasan penegakan aturan sempadan tanpa melihat konteks Tebang Pilih. Jika benar demi kebaikan bersama dan penegakan regulasi, mengapa Lon Segi tidak bersuara lantang terhadap bangunan-bangunan besar dan hotel di pesisir Ende yang juga melanggar sempadan pantai?

Mengapa “Gelar” Anda hanya tajam kepada rakyat kecil di Ndao, tapi tumpul saat berhadapan dengan tembok-tembok beton bermodal besar? Selama penertiban ini diskriminatif, maka narasi “Kebaikan Bersama” hanyalah jargon untuk melegitimasi penindasan.

Intelektualitas yang Berpihak pada Kemanusiaan

Gelar akademis yang panjang seharusnya menjadi alat untuk membedah ketidakadilan, bukan untuk memoles kebijakan yang represif agar terlihat manis. Penataan Pantai Ndao adalah kebutuhan, tapi cara yang ditempuh pemerintah saat ini adalah kesalahan.

Kepada saudara Lon Segi, S.Pd., M.Pd., kita perlu ingatkan: Kebenaran tidak diukur dari panjangnya gelar di belakang nama, tapi dari seberapa dekat nalar Anda berdiri di samping penderitaan rakyat.

Pantai Ndao tidak butuh narasi yang memisahkan antara “keindahan kota” dan “kelangsungan hidup”. Ndao butuh kebijakan yang merakit keduanya tanpa harus mengusir pemilik sejarah di sana. Salam Fraternitas 

Exit mobile version