Politisi Partai Amanat Nasional itu mengatakan dirinya sangat menikmati suasana diskusi akademik yang dipenuhi dialektika demokrasi, perbedaan pandangan, kritik tajam, hingga gagasan teoritik dari dosen dan mahasiswa terkait kebijakan fiskal Pemerintah Provinsi NTT.
Menurutnya, kebebasan mimbar akademik menjadi ruang penting dalam melahirkan ide dan masukan konstruktif bagi pembangunan daerah dan bangsa.
“Terima kasih Unika Widya Mandira yang terus mengasah dan membangun kebebasan mimbar akademik agar kampus terus menghasilkan masukan dan gagasan cerdas yang memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa dan daerah,” katanya.
Kegiatan tersebut berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta mengenai kondisi fiskal daerah, ketergantungan terhadap transfer pusat, serta tantangan membangun kemandirian keuangan daerah di era desentralisasi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
