Sebagaimana kata Edward Said, peran intelektual adalah menyuarakan mereka yang “disapu ke bawah karpet”. Jika membela hak hidup rakyat disebut sensasional, maka kami bangga menjadi sensasional daripada menjadi rasional namun tidak punya hati.
Pulihkan Rasionalitas, Selamatkan Ndao
Kepada Kakanda Maxi Mari, mari kita berhenti menggunakan intelektualitas sebagai alat untuk menjustifikasi represi. Kebijakan yang benar bukan kebijakan yang “bersih secara dokumen”, tapi kebijakan yang “berkah secara sosial”.
Ndao tidak butuh “Teknokrasi Dingin” yang hanya tahu cara mengusir. Ndao butuh Kemanusiaan yang Berpikir—yang mampu menata tanpa membinasakan, yang mampu meregulasi tanpa mendzolimi Berhentilah memuja berhala aturan, dan mulailah memuliakan manusia. Karena pada akhirnya, hukum diciptakan untuk manusia, bukan manusia dikorbankan untuk hukum.
Menelanjangi “Lubang” dalam Nalar Kakanda Maxi Mari
Pada alinea pertama opininya, Kakanda Maxi Mari dengan percaya diri menuding bahwa narasi yang kita bangun mengandung “kekosongan substantif yang signifikan”. Sebuah klaim yang terdengar sangat akademis, namun jika kita periksa lebih teliti, justru ulasan Kakanda Maxi-lah yang sedang mengalami kebangkrutan substansi.
Disini saya akan mengajak pembaca untuk melihat dimana letak “lubang” besar dalam logika Kakanda Maxi: Retorika Tanpa Solusi Adalah Kekosongan Sejati. Kakanda Maxi sibuk menguliti gaya bahasa kita, namun gagal total dalam menyajikan satu pun Solusi Konkret.
Saya ulangi kembali ya bahwa, Jika keberpihakan pada 100 jiwa rakyat Ndao disebut “kosong substantif”, maka apa sebutan untuk sebuah opini yang memuja regulasi tapi tidak menawarkan jalan keluar selain penggusuran? Sebuah analisis kebijakan yang hanya berujung pada “pokoknya gusur” bukan sedang melakukan analisis, tapi sedang melakukan pemaksaan kehendak yang dibungkus dengan bahasa langit. Substansi sejati dari sebuah kebijakan adalah Solusi, dan di situlah Kakanda Maxi absen total.
Miopia Intelektual: Gagal Melihat Opsi Ketiga. Kekosongan substantif yang sebenarnya ada pada ketidakmampuan Kakanda Maxi untuk melihat opsi di luar dikotomi “Gusur atau Langgar”. Dalam dunia perencanaan wilayah modern, ada konsep Inclusive Urbanism. Mengapa “kacamata rasionalitas” Kakanda Maxi tidak mampu menangkap opsi Penataan di Tempat (On-Site Upgrading)? Menuduh orang lain kosong substantif sementara diri sendiri hanya punya satu alat (penggusuran) untuk menyelesaikan semua masalah adalah tanda dari Miopia Intelektual—pandangan yang pendek dan terbatas.
Rasionalitas yang “Menjajah” Realitas
Kakanda Maxi merasa paling rasional karena ia memegang teks aturan. Sebagaimana dikritik oleh pemikir post-strukturalis, Michel Foucault, pengetahuan seringkali digunakan sebagai alat kekuasaan (Power/Knowledge). Rasionalitas Kakanda Maxi adalah rasionalitas yang “menjajah” realitas rakyat Ndao. Ia menganggap angka-angka koordinat tata ruang lebih nyata daripada angka-angka kebutuhan hidup keluarga pedagang. Kekosongan substantif yang ia tuduhkan sebenarnya adalah pantulan dari ketidakmampuannya memahami Logika Sosiologis masyarakat pesisir.
Tantangan Substansi: Mana Data Bandingnya?
Jika Kakanda Maxi merasa opininya lebih substantif, kita menantang transparansi datanya. Substansi kebijakan harus berbasis data. Di mana analisis Kakanda Maxi mengenai dampak penurunan daya beli masyarakat Ende jika ekosistem Ndao dihancurkan? Di mana hitung-hitungan kerugian PAD jangka panjangnya? Tanpa data itu, klaim “analisis logis” Kakanda Maxi hanyalah Fiksi Administratif yang dingin.
Disitulah letak lubang yang mesti dilihat dan dicermati oleh publik Ende bahwa “Sangat ironis ketika seseorang menuduh orang lain ‘kosong substantif’ sementara ia sendiri sedang berdiri di atas podium yang rapuh karena ketiadaan solusi. Kakanda Maxi Mari tidak sedang melakukan analisis kebijakan; ia sedang melakukan Esekusi Narasi. Ia mencela ‘retorika puitis’ kami karena ia takut berhadapan dengan Kebenaran yang Pedih di lapangan. Jangan bicara soal rasionalitas kebijakan jika satu-satunya instrumen yang Anda miliki adalah pengusiran. Itu bukan rasionalitas, itu adalah Kegagalan Berpikir.” Ngopi Dulu Kakanda Agar Tenang. Salam Fraternitas,
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.