(Nagekeo-Menitnusantara.com) Ada orang yang memilih pergi jauh untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun, ada pula yang memilih kembali ke tanah kelahiran untuk membangun kampung halaman.
Kisah itu datang dari Fidel, Kepala Desa Woko Woe, Kabupaten Nagekeo. Pria kelahiran Bheda tahun 1979 ini pernah menempuh pendidikan di Seminari. Pengalaman hidup yang ia dapatkan selama berada di Seminari menjadi salah satu bekal dalam perjalanan pengabdiannya kepada masyarakat.
Setelah kembali ke kampung halaman, Fidel tidak hanya memilih menjadi bagian dari masyarakat, tetapi perlahan mengambil peran dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Ia pernah dipercaya umat menjadi Ketua Stasi selama kurang lebih sembilan tahun.
Menjadi Ketua Stasi bukanlah pekerjaan yang selalu mudah. Ada tantangan, perbedaan pandangan, bahkan ada yang mendukung dan ada pula yang tidak menyukai.
Namun, Fidel memilih untuk tidak menyerah. Baginya, kepercayaan adalah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan ketulusan.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika masyarakat memberikan kepercayaan yang lebih besar kepadanya untuk memimpin Desa Woko Woe sebagai kepala desa.
Anak Muda Bukan Penonton, Tetapi Pelaku Pembangunan
Bagi Fidel, pembangunan desa tidak boleh hanya dilakukan oleh pemerintah desa. Anak muda harus diberi ruang untuk berpikir, menyampaikan ide, berkarya dan mengambil bagian.
Ia melihat bahwa selama ini masih ada anak muda yang sebenarnya memiliki kemampuan dan gagasan, tetapi tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk mengekspresikan diri.
Karena itu, ketika dipercaya memimpin desa, Fidel membawa satu prinsip sederhana: anak muda harus dilibatkan.
“Saya menggerakkan semua kekuatan dan anak muda selalu saya libatkan dalam berbagai urusan. Dari situ mereka bisa mengekspresikan kemampuan dan ide mereka,” ujarnya.
Menurut Fidel, anak muda bukan sekadar pelengkap dalam pembangunan desa. Mereka adalah garda terdepan sekaligus cerminan masa depan desa. Ia percaya bahwa selama ada kemauan dan niat, tidak ada sesuatu yang benar-benar mustahil untuk dilakukan.
Prinsip itu pula yang selama ini ia pegang. Bahkan sebelum menjadi kepala desa, ketika dirinya bersama teman-teman muda belum banyak mendapatkan ruang, ia tidak menjadikannya sebagai alasan untuk berhenti bergerak.
Justru dari keterbatasan ruang tersebut lahir keyakinan bahwa perubahan harus dimulai dari keberanian untuk mengambil peran.
Dari Desa untuk Desa Tetangga
Semangat pengabdian Fidel tidak berhenti di wilayah Desa Woko Woe. Ketika gempa bumi mengguncang Flores dan meninggalkan trauma serta kerusakan di berbagai wilayah, Fidel memilih untuk tidak hanya memikirkan kondisi desanya sendiri.
Di tengah kesibukannya sebagai kepala desa, ia bersama SOS Children’s Villages Flores ikut bergerak sebagai relawan membantu masyarakat yang terdampak di desa tetangga, termasuk Desa Dagalea dan Desa Riti.
Bantuan sembako menjadi salah satu bentuk kepedulian yang mereka hadirkan kepada masyarakat. Bagi Fidel, membantu sesama tidak harus menunggu menjadi orang besar atau memiliki banyak hal. Yang terpenting adalah niat.
“Selama ini saya berkomunikasi dengan semua orang dan stakeholder lainnya untuk membantu masyarakat yang ada di desa saya,” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
