Indeks

Dari Seminari Pulang Membangun Kampung, Kades Fidel Jadikan Anak Muda sebagai Garda Terdepan Pembangunan

Reporter : Rian Nulangi Editor: Rian Nulangi

Prinsip tersebut membuat Fidel terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak agar kebutuhan masyarakat dapat diperjuangkan dan dicarikan jalan keluarnya.

Trauma Healing dengan Cara Sederhana

Gempa bukan hanya merusak rumah dan bangunan. Bagi masyarakat yang mengalaminya, bencana juga meninggalkan ketakutan dan trauma.

Ada warga yang rumahnya rusak berat. Ada yang mengalami kerusakan ringan. Namun, rasa takut tetap ada, terutama ketika masyarakat masih dihantui kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Melihat kondisi tersebut, Fidel kemudian melakukan pendekatan sederhana kepada masyarakat. Ia mengajak warga perlahan kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Baginya, kembali beraktivitas bukan berarti melupakan bencana atau mengabaikan kewaspadaan. Sebaliknya, aktivitas menjadi salah satu cara agar masyarakat tidak terus larut dalam ketakutan.

“Setelah beberapa hari pascagempa, saya melakukan trauma healing kepada masyarakat dengan meminta mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Kalau mereka hanya berada di rumah, saya yakin mereka bisa semakin stres, apalagi ada yang rumahnya rusak. Saya minta mereka kembali beraktivitas, tetapi tetap berhati-hati,” tuturnya.

Pendekatan sederhana itu perlahan membawa perubahan. Masyarakat mulai kembali beraktivitas. Mereka mulai berdamai dengan keadaan dan menerima bahwa kehidupan harus terus berjalan.

Bagi Fidel, rumah yang rusak memang membutuhkan waktu untuk diperbaiki. Tetapi jangan sampai kerusakan rumah membuat kehidupan dan harapan masyarakat ikut runtuh.

Pemimpin yang Tumbuh dari Masyarakat

Perjalanan Fidel memperlihatkan bahwa menjadi kepala desa bukan hanya tentang memimpin pemerintahan desa.

Ada tanggung jawab untuk mendengar masyarakat, memberi ruang kepada anak muda, membangun komunikasi dengan berbagai pihak, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Dari pengalaman di Seminari, pengabdian sebagai Ketua Stasi selama sembilan tahun, hingga dipercaya menjadi kepala desa, Fidel terus membawa satu semangat: melayani dan bergerak bersama masyarakat.

Ia tidak ingin anak muda hanya menjadi penonton pembangunan. Ia ingin mereka menjadi pelaku. Ia juga tidak ingin masyarakat hanya menunggu bantuan ketika bencana datang. Ia ingin membangun semangat gotong royong dan membuka komunikasi dengan berbagai pihak.

Dan ketika gempa mengguncang Flores, semangat itu kembali terlihat. Ia bukan hanya berdiri sebagai kepala desa, tetapi ikut turun sebagai bagian dari masyarakat dan relawan bersama SOS Children’s Villages Flores.

Karena bagi Fidel, membangun desa bukan hanya soal membangun jalan, rumah atau fasilitas umum. Membangun desa berarti membangun manusianya.

Dan ketika manusia diberi ruang untuk bergerak, anak muda diberi kepercayaan, serta masyarakat saling menguatkan, maka sebuah desa memiliki modal besar untuk bangkit.

Sebab pembangunan yang paling kuat bukan hanya dibangun dengan anggaran, tetapi dengan niat, kepedulian, kebersamaan dan keberanian untuk bergerak bersama.

Exit mobile version