Indeks
Opini  

Paradoks Akuatik: Fatamorgana Waterboom di Atas Tanah yang Dahaga

Entropi Infrastruktur dan Kegelapan Digital

Ketimpangan ini semakin terakselerasi jika kita menilik aspek konektivitas. Pembangunan jalan bukan sekadar urusan aspal, melainkan urat nadi ekonomi yang menentukan efisiensi logistik dan aksesibilitas pendidikan serta kesehatan. Menelantarkan jalan-jalan desa demi proyek estetika kota adalah tindakan yang memperlebar jurang marginalisasi rural.

Lebih lanjut, di era revolusi industri 4.0, ketidakhadiran elektrifikasi yang memadai dan blank spot internet di pelosok Ende adalah bentuk “pemiskinan kognitif”. Tanpa listrik dan internet, masyarakat desa dipaksa menetap dalam stagnasi informasi. Sementara itu, water boom hanya akan menjadi monumen kesenangan bagi segelintir elit urban, mengabaikan hak warga dusun untuk mencicipi demokratisasi teknologi.

Perspektif Ekonomi: Investasi atau Distraksi?

Pemerintah mungkin berdalih menggunakan retorika multiplayer effect dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pariwisata. Namun, secara ekonometrik, investasi pada infrastruktur dasar (jalan dan air) memiliki nilai Internal Rate of Return (IRR) sosial yang jauh lebih tinggi dalam jangka panjang dibandingkan proyek hiburan.

Membangun jalan desa akan menurunkan biaya produksi pertanian dan meningkatkan daya saing lokal. Sebaliknya, water boom tanpa didukung daya beli masyarakat yang merata hanya akan menjadi proyek gajah putih (white elephant project) yang membebani biaya pemeliharaan di masa depan.

Konklusi: Menuntut Kepekaan Etis

Pembangunan seharusnya bersifat inklusif, bukan eksklusif. Bupati Ende harus menyadari bahwa legitimasi kepemimpinan tidak dibangun di atas dasar beton-beton kolam renang yang megah, melainkan pada kemampuannya mengalirkan air ke dapur warga dan membentang jalan ke ladang-ladang rakyat.

 

Mengutamakan hiburan di atas pemenuhan hak dasar adalah sebuah distorsi moral dalam pemerintahan. Masyarakat tidak membutuhkan fatamorgana kesenangan di tengah kegelapan dusun; mereka membutuhkan cahaya lampu di malam hari, sinyal internet untuk masa depan anak-anaknya, dan jalan yang layak untuk memanggul harapan hidup.

“Keadilan sosial tidak akan pernah tercapai selama air di taman ria lebih jernih daripada air di gelas rakyat jelata.”

Exit mobile version