Indeks

Pengecut di Balik Avatar Digital : “Biarkan Anjing Menggonggong, Nalar Tetap Melaju”

Pengecut di Balik Avatar Digital : “Biarkan Anjing Menggonggong, Nalar Tetap Melaju”

Oleh: Rian Laka Alumni PMKRI Cabang Ende

(Ende-Menitnusantara.com) Ada pemandangan menggelikan dalam diskursus penataan Ndao belakangan ini. Di tengah upaya mahasiswa dan warga membedah kebijakan penggusuran dengan argumen tata ruang dan kemanusiaan, muncul segerombolan “prajurit digital” Yang penulis sematkan sebagai barikade ISIS-M dari balik akun-akun tanpa wajah. Kehadiran mereka bukan untuk beradu data, melainkan untuk meluncurkan serangan personal yang dangkal secara isi Kepala, dan tentu saja, anonim.

Fenomena ini dalam studi psikologi komunikasi dikenal sebagai “Online Disinhibition Effect”—sebuah kondisi di mana seseorang merasa memiliki keberanian semu karena merasa identitasnya tersembunyi. Namun, di mata publik Ende yang cerdas secara intelektual, serangan personal dari akun anonim macam ini, tak lebih dari sebuah “pesta keputusasaan mayoritas tim” yang disebabkan oleh mengeringnya isi kepala barikade Deo – Do dalam beropini.

Ketika kalah perang di ramah intelektual tim sukses Deo – Do yang dianggap sebagai think tank berfikir ekternal pemerintah memainkan pola lama yakni mengaktifkan akun anonim yang bangkrut secara nalar untuk berkiprah di ruang publik sebagai pelarian terbaik dari kalah perang isi kepala, hingga berujung terpental- nya logika ke – selokan toilet.

Realita ini penulis menyebutnya sebagai kedangkalan nalar kritis dan kebangkrutan intelektual para think tank berfikir eksternal pemerintah Deo- Do dalam bayang – bayang kekusaan yang nyatanya nyaris hilang rasa percaya dari seorang yang dipuji Panglima Kebijakan terhadap pemuja Jendral pemikir doeloe alias tua bangka.

Bahwasanya penulis merasa sangat mudah untuk mengenali pola para penyerang macam ini. Ketika mereka tidak mampu menjawab mengapa kebijakan Bupati harus menggunakan ancaman pidana, atau mengapa “Gerakan ASRI” harus mengorbankan periuk nasi rakyat, mereka mulai menyerang subjeknya.

Mereka sibuk menguliti pribadi, menyerang fisik, atau mempermasalahkan tata letak tulisan opini, seolah – olah itu akan menghapus fakta bahwa rakyat sedang tercekik oleh kebijakan yang tidak populis dan tak berwibawa.

Secara ilmiah, ini adalah indikator asimetri intelektual. Seseorang menyerang pribadi hanya ketika sudah kehilangan kapasitas untuk berpikir kritis. Mereka adalah bukti nyata dari apa yang disebut Umberto Eco sebagai “serbuan legiun idiot” di media sosial—mereka yang diberi hak bicara namun hanya menggunakannya untuk memproduksi limbah narasi oleh pengguna akun anonim seperti Chiva Punk.

Kriminalisasi Intelektual Era Digital 

Dalam pandangan penulis, penglihatan yang lebih menyedihkan adalah dugaan adanya orkestrasi di balik serangan-serangan ini. Jika akun-akun anonim ini bergerak selaras dengan narasi penguasa, maka kita sedang melihat sebuah tragedi demokrasi: di mana kritik dijawab bukan dengan solusi, melainkan dengan pembunuhan karakter (character assassination).

Apakah penguasa di Ende begitu rapuhnya hingga harus memelihara “anjing penjaga” di media sosial untuk menggigit setiap suara kritis? Jika argumen barikade Deo – Do memang sekuat baja, mengapa mereka butuh bantuan pasukan anonim untuk menyerang pribadi lawan bicara? Jawabannya jelas: karena narasi mereka rapuh, sekosong janji-janji kesejahteraan yang mereka tawarkan di tengah penggusuran.

Exit mobile version