Indeks

Menakar Marwah Srikandi Megy Sigasare di Altar Golkar Ende Jelang Musda

Antara Skeptisme dan Otensitas Elektoral

Di antara riuh rendah lobi senyap empat faksi, sebuah anggapan miring sengaja diembuskan ke permukaan: bahwa Megy Sigasare—satu-satunya srikandi dalam bursa calon ketua—tidak memiliki “otot” politik yang cukup kuat, baik dari segi popularitas maupun elektabilitas, jika disandingkan dengan nama-nama beken seperti dr. Domi, Ambros Reda, atau Jhon Pela.

Dalam panggung politik yang kerap dinilai secara maskulin dan transaksional, anggapan seperti ini adalah hal biasa. Ia bisa jadi sebuah kritik objektif, namun lebih sering merupakan bagian dari psychological warfare (perang urat saraf) untuk menggemboskan mental petarung sebelum palu sidang diketuk.

Namun, sebagai sebuah produk jurnalisme investigatif dan analisis politik yang komprehensif, benarkah Megy selemah itu? Ataukah para pengamat permukaan sedang terjebak dalam bias visual dan gagal membaca arus bawah?

Jika kita menguliti lapisan luar tersebut dan melihat realitas politik secara makro serta mendalam, anggapan bahwa Megy tidak memiliki elektabilitas dan popularitas justru runtuh oleh tiga hujah tak terbantahkan ini.  Pertama, ujian konsistensi dan kelolosan dua periode (The Ultimate Litmus Test). Elektabilitas sejati seorang politisi tidak diukur saat angin sedang buritan, melainkan saat badai sedang menerpa. Di Pemilu 2024, banyak petahana (incumbent) bertumbangan di Ende akibat fragmentasi suara yang luar biasa kejam. Penurunan suara yang dialami Megy bukan berdiri sendiri, melainkan dampak makro dari konstelasi politik daerah.

Namun faktanya, Megy tetap lolos dan berhasil mempertahankan kursinya untuk periode kedua. Dalam teori politik, memenangkan kursi back-to-back (berturut-turut) di tengah situasi sulit adalah bukti valid bahwa Megy memiliki loyalist base (basis massa militan) yang mengakar, bukan massa mengambang yang mudah dibeli saat fajar.

Kedua, popularitas yang otentik, bukan hasil pabrikan. Ada perbedaan mendasar antara popularitas karena jabatan dan popularitas karena kedekatan historis. Tiga kompetitor Megy mungkin populer karena rekam jejak profesional atau faksional mereka. Namun, popularitas Megy di dalam rahim Golkar Ende bersifat organik.

Sejak zaman mendiang ayahnya hingga hari ini, nama Sigasare telah berkelindan dengan warna kuning beringin di Ende. Di tingkat pengurus kecamatan (PK) yang memegang hak suara Musda, Megy tidak perlu lagi memperkenalkan diri atau membeli kartu nama. Popularitasnya adalah investasi emosional yang ditanam selama belasan tahun—sebuah jenis popularitas yang tidak bisa dikejar oleh program pencitraan instan tiga bulan menjelang Musda.

Ketiga modal sosial vs modal finansial finansial (Lobi di Bawah Meja). Ketika faksi-faksi lain diduga kuat mengandalkan lobi-lobi logistik di bawah meja sebagai instrumen utama pemenangan, Megy berdiri dengan modal yang berbeda: moralitas organisasi. Menuduh Megy tidak kuat secara elektabilitas karena ia tidak ikut dalam sirkus transaksi logistik adalah sebuah sesat pikir politik. Megy justru menawarkan antitesis, jika Golkar Ende ingin selamat dari pragmatisme yang merusak, partai ini harus dipimpin oleh orang yang dipilih karena ikatan ideologis, bukan karena ketebalan tas logistik di malam menjelang pemilihan.

Menanti kejujuran Sang Srikandi

Pada akhirnya, anggapan bahwa Megy Sigasare tidak memiliki popularitas dan elektabilitas adalah penilaian yang buru-buru, jika bukan sebuah ketakutan yang disembunyikan oleh faksi lain. Mereka yang meremehkan Megy lupa pada satu hukum alam: kain velvet tidak perlu berkilau norak untuk membuktikan bahwa dirinya mahal.

Megy mungkin tidak menguasai panggung lobi-lobi transaksional yang bising, tetapi ia menguasai memori kolektif dan hati para kader yang masih merindukan kepemimpinan yang tulus.

Di tengah jalan buntu (deadlock) yang berpotensi terjadi akibat benturan ego tiga faksi maskulin di Musda nanti, Megy Sigasare justru menjadi satu-satunya alternatif penyelemat. Ia adalah jangkar moral. Dan ketika saatnya tiba, arus bawah yang dirawatnya dalam senyap bisa jadi akan menggulung balik semua kalkulasi di atas kertas yang selama ini meremehkannya.

Exit mobile version