Cinta yang Tertukar dengan Nafsu: Refleksi atas Makna Pacaran di Masa Kuliah

Oleh Aprianus Gregorian Bahtera
Mahasiswa fakultas filsafat universitas Widya Mandira kupang
Berpacaran adalah bagian wajar dari perjalanan hidup manusia muda. Melalui hubungan itu, dua insan belajar mengenal karakter, kebiasaan, bahkan cara berpikir orang yang dicintainya sebelum melangkah lebih jauh ke jenjang yang lebih serius. Tidak ada yang salah dari keinginan untuk mencintai dan dicintai, sebab itu adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, sebagaimana pisau yang bisa menjadi alat memasak atau alat melukai, pacaran pun bisa menjadi sarana pendewasaan diri atau justru menjadi jurang yang menjatuhkan seseorang ke dalam kehancuran moral dan masa depan.
Persoalan muncul ketika pacaran dijalani tanpa kesadaran akan batas dan tujuan. Banyak orang tua di kampung halaman menaruh harapan besar ketika melepas anaknya, khususnya anak perempuan, untuk menimba ilmu di kota yang jauh. Harapan itu sederhana namun dalam: pulang membawa ilmu, membawa kebanggaan, dan menjadi bukti bahwa pengorbanan orang tua tidak sia-sia. Di balik kepercayaan itu tersimpan doa, keringat, dan kadang utang yang ditanggung demi membiayai pendidikan sang anak.
Sayangnya, tidak sedikit kepercayaan itu disalahgunakan. Jauh dari pengawasan orang tua, sebagian anak muda justru menjalani hubungan pacaran yang melampaui batas kewajaran. Tidur bersama pasangan tanpa ikatan yang sah, tanpa sepengetahuan keluarga, adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan yang telah diberikan. Lebih menyedihkan lagi, ada yang justru membiayai kebutuhan pacarnya, padahal dirinya sendiri masih bergantung pada biaya kiriman orang tua yang berjuang dengan keringat dan air mata di kampung halaman.
Tindakan semacam ini sesungguhnya bukan sekadar kesalahan pribadi, melainkan bentuk penghinaan terhadap perjuangan orang tua. Ketika seorang anak menukar masa depan dan kepercayaan keluarga dengan kenikmatan sesaat, ia secara tidak langsung menyiksa dirinya sendiri sekaligus melukai hati orang-orang yang paling tulus menyayanginya. Uang yang semestinya menjadi bekal pendidikan justru terpakai untuk memuaskan hubungan yang rapuh, sementara nilai-nilai yang dipesankan orang tua perlahan luntur dan terlupakan.
Yang lebih memprihatinkan, sering kali hubungan semacam ini berakhir dengan kehancuran yang lebih dalam, yakni ketika kesucian diri dikorbankan atas nama cinta. Padahal, jika ditelaah lebih jernih, apa yang dianggap cinta itu kerap kali hanyalah nafsu yang menyamar dengan kata-kata indah. Cinta sejati tidak pernah menuntut seseorang mengorbankan kehormatan dirinya, justru sebaliknya, cinta yang tulus akan menjaga dan melindungi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.