Menurutnya, derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, serta maraknya politik identitas menuntut anak muda untuk memiliki keteguhan nilai kebangsaan agar tidak mudah terpecah oleh provokasi dan hoaks.
Cheroline juga menekankan pentingnya peran milenial Papua sebagai penjaga persatuan dalam keberagaman. Ia mengajak peserta untuk menjadikan perbedaan suku, agama, dan budaya sebagai kekuatan, bukan sumber konflik
“Papua adalah miniatur Indonesia. Jika nilai Bhinneka Tunggal Ika benar-benar hidup di Papua, maka Indonesia akan berdiri kokoh sebagai bangsa yang adil, beradab, dan berdaulat,” tegasnya.
Kegiatan sosialisasi ini berlangsung interaktif, dengan sesi dialog dan diskusi yang diikuti secara antusias oleh para peserta. Sejumlah milenial menyampaikan pandangan kritis mereka terkait tantangan kebangsaan, peran anak muda dalam demokrasi, serta pentingnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Melalui kegiatan ini, Cheroline berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan bangsa, tetapi tampil sebagai agen perubahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. (***)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
