Indeks

Cerdas Palsu, Bahaya Nyata

Cerdas Palsu, Bahaya Nyata

Oleh: Maria Lidia Marut

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi

Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Media sosial hari ini dipenuhi orang-orang yang gemar tampil paling pintar di setiap kolom komentar. Mereka melempar istilah rumit, membantah fakta dengan suara paling lantang, lalu merasa menang meski substansi argumennya minim. Fenomena ini bukan sekadar drama digital yang lewat begitu saja. Ia mencerminkan kecenderungan sosial yang semakin mengutamakan penampilan intelektual dibanding kedalaman pemikiran.

Ironisnya, semakin riuh seseorang berbicara, semakin besar peluang ia dianggap kredibel. Algoritma media sosial memperkuat ilusi tersebut dengan mengangkat konten yang memancing emosi dan kontroversi, sementara argumen yang tenang dan berbasis data sering tenggelam tanpa perhatian. Akibatnya, validasi publik tidak lagi selalu diberikan kepada mereka yang benar, melainkan kepada mereka yang paling percaya diri dalam menyampaikan pendapat.

Dalam berbagai perdebatan publik, mulai dari isu kebijakan, ekonomi, hingga politik, kita sering menyaksikan individu yang lebih sibuk membangun citra daripada menyampaikan substansi. Mereka sulit mengakui kekeliruan, defensif terhadap kritik, dan terus mengulang klaim yang telah dibantah oleh fakta. Publik pun terpecah bukan semata karena perbedaan data, melainkan karena kekuatan retorika yang mampu menciptakan kesan meyakinkan.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi seseorang berdasarkan tingkat kecerdasannya. Sebaliknya, tulisan ini mengajak pembaca melihat sejumlah pola perilaku yang dalam kajian psikologi sering dikaitkan dengan rendahnya kesadaran diri, keterbukaan berpikir, atau kemampuan refleksi. Pola-pola tersebut penting dipahami agar kita tidak mudah tertipu oleh kemasan intelektual yang tampak meyakinkan tetapi miskin substansi.

Topeng Percaya Diri yang Menutupi Kerapuhan

Salah satu karakteristik yang sering dibahas dalam psikologi adalah keengganan mengakui keterbatasan diri. Sebagian orang enggan meminta bantuan bukan karena mandiri, melainkan karena takut terlihat tidak tahu. Mereka menganggap ketidaktahuan sebagai kelemahan yang harus disembunyikan. Padahal, kemampuan mengakui keterbatasan justru merupakan bagian penting dari proses belajar.

Fenomena ini kerap terlihat dalam ruang publik. Tidak sedikit tokoh yang lebih memilih mempertahankan pendapat yang keliru daripada mengakui kesalahan. Citra dianggap lebih penting daripada kebenaran. Akibatnya, diskusi berubah menjadi arena mempertahankan gengsi, bukan mencari solusi.

Kecenderungan lain adalah penggunaan bahasa yang rumit untuk menciptakan kesan intelektual. Padahal, kemampuan menjelaskan sesuatu secara sederhana sering kali menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam. Orang yang benar-benar memahami suatu persoalan biasanya mampu menerjemahkan gagasan kompleks menjadi bahasa yang mudah dipahami berbagai kalangan.

Sikap suka menyela, mengejek, atau mendominasi percakapan juga sering muncul dalam diskusi publik. Banyak orang mengira perilaku tersebut menunjukkan ketajaman berpikir, padahal belum tentu demikian. Dalam banyak kasus, tindakan tersebut justru menunjukkan rendahnya kemampuan mendengarkan dan menghargai perspektif orang lain.

Begitu pula dengan sikap defensif yang berlebihan saat menerima kritik. Kritik sering dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri, bukan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Akibatnya, energi lebih banyak digunakan untuk membela diri daripada memahami substansi kritik yang disampaikan.

Exit mobile version